IMG_0268
Sebagai upaya untuk melayani dan memfasilitasi anak-anak yang putus sekolah, di desa Tempaling kecamatan Pamotan kabupaten Rembang dan sekitarnya, melalui Yayasan Tri Guna mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
SMK Tri Guna pada tahun 2015 ini merupakan tahun pelajaran pertama. Sekolah tersebut telah memerima peserta didik berjumlah sebanyak 60 siswa, dengan dua program kejuruan, yaitu akuntansi dan otomotif.
Kusnandar, S.Pd, M.Si selaku ketua umum Yayasan Tri Guna mengungkapkan, sebagai upaya untuk melayani anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah di tingkat SMA sederajat, kami mendirikan sekolah ini.
“Memang faktor utama dari putusnya anak sekolah diduga dikarenakan terbenturnya ekonomi masyarakat,” ujar dia.
Sekolah yang baru berusia 3 bulan tersebut juga tidak memungut biaya sama sekali alias geratis  kepada peserta didiknya, mulai dari daftar masuk, seragam, hingga uang gedung.
“Sebagai tujuan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu, memang kami tidak ada pungutan sama sekali, mulai pendaftaran masuk, seragam, hingga uang gedung,’ tegas Kusnandar.
Kusnandar menambahkan bahwa dari jumlah total peserta didik yang sedang mengikuti pendidikan di Yayasan SMK Triguna sekitar 90 persennya berasal dari kalangan warga kurang mampu atau miskin dan yatim piatu.
“Saat ini, siswa didik berasal dari Gunem, Sulang dan Pamotan. Semua iuran bangunan, seragam sekolah geratis sampai selesai study. Selain itu dari pihak sekolah juga telah memberikan fasilitas antar jemput geratis,” kata dia.
Sementara, M. Syamsul Huda, S.Pd, (26), kepala sekolah SMK Tri Guna kepada Wartawan mengatakan, banyak keluhan masyarakat terkait masih mahalnya biaya pendidikan, apalagi ditingkatan SMA sederajat. Sehingga kami tersentuh untuk mendirikan sekolah ini.
“Sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan bantuan dari pihak pemerintahan. Jadi pembangunan gedung dan administrasi setiap hari di sekolah ini kami dapat dari investasi para dewan guru yang ada disini,” tandas dia, Senin (5/10) pagi di sekolah.
Menurut dia, seiring berjalannya waktu, dirinya berharap ada peran serta pemerintah dalam proses pembangunan di yayasan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat (YPPM) SMK Tri Guna Pamotan yang berakta Notaris no 115 tahun 2014 tersebut.
Dilain kesempatan, Vivi (14) salah satu siswi kelas X SMK Tri Guna itu  mengatakan, bahwa memang benar di SMK Tri Guna Pamotan betul- betul tidak ada pungutan sama sekali. Bahkan menurut dia, pihak sekolah tengah memberikan fasilitas kendaraan antar jemput.

“Untuk menuju sekolah dan sebaliknya, saya diantar jemput setiap pagi dan pulang sekolah. Termasuk para siswa yang berada diluar kecamatanpun dijemput pihak sekolah,” katanya. (Aan/ Sus)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*