160816 idola2016 (live)c

SEMARANG, gemamuria.com – Tujuan utama adanya pemerintahan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kemajuan di semua bidang termasuk sarpras publik, pendidikan, kesehatan, dan bidang lain termasuk ekonomi kerakyatan, muaranya hanya satu yaitu kesejahteraan. Substansi ekonomi kerakyatan bisa diterjemahkan, bahwa keberhasilan pemerintah adalah ketika bisa menyejahterakan masyarakat.

Menurut Bupati Kudus H. Musthofa, untuk bisa mewujudkannya secara utuh, pemerintah harus hadir untuk memberdayakan potensi seluruh masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah golongan menengah ke bawah.

”Maka kita (pemerintah) tidak boleh jadi penonton. Tetapi harus terus berupaya tidak boleh lelah, tidak boleh bosan, dan tiada henti-hentinya memberdayakan potensi yang ada,” kata Bupati Kudus dalam dialog live di Idola 92,6 FM, Selasa (16/8) pagi.

Konkritnya, tambahnya, pemerintah bisa memberikan berbagai upaya, diantaranya pelatihan keterampilan, pelaksanaan dan pendampingan, kemudahan permodalan usaha, bahkan hingga akses membangun pasar. Di Kudus, Pemkab telah memberikan pelatihan dan kemudahan dalam permodalan. Serta dibantu membangun jaringan bagi pemasaran.

”Masyarakat ini punya kreativitas. Ini yang harus terus dikembangkan. Dengan adanya peran pemkab dalam pembinaan dan membangun pasar, mereka akan tumbuh sehat,” lanjutnya.

Bupati yang sudah delapan tahun memimpin Kudus ini tentu sudah banyak pengalaman sebagai kepala daerah. Apalagi Kudus sebagai tanah kelahirannya. Dirinya menilai di Kudus tidak ada orang miskin. Kalau sampai ada yang miskin, menurutnya, itu karena kemalasan. Karena prinsipnya, kalau ada kemauan dan upaya, Insha Allah bisa.

Menanggapi mengenai permodalan usaha, Bupati yang juga penggagas pinjaman tanpa jaminan ini, yaitu kredit usaha produktif (KUP) sangat transparan dalam penggunaan APBD. Dirinya mempersilakan masyarakat melihat semua pos APBD. Bahwa tidak ada APBD yang terpotong untuk pinjaman KUP.

”Inilah yang butuh gagasan dan kreativitas. Bagaimana bisa memberikan pinjaman tanpa APBD? Dan bagaimana meyakinkan bisa menjamin bank?” imbuhnya.

Ada anggapan, bahwa pinjaman pemerintah merupakan ‘hibah’. Mind set inilah yang merupakan tugas pemerintah untuk diubah, bahwa pinjaman adalah sesuatu yang harus dikembalikan. Dan sebenarnya masyarakat pelaku ekonomi mikro kecil ini merupakan orang-orang yang jujur.

”Meski dalam skala kecil, kepercayaan itu segala-galanya. Dalam berwirausaha, masyarakat Kudus bisa mengimplementasikan gusjigang dengan baik,” lanjutnya.

Pemberdayaan UMKM di Kudus kini sudah menampakkan hasilnya. Bagaimana kreativitas masyarakat yang terus diasah didukung dengan peran pemerintah dalam upaya itu. Apalagi ada pinjaman tanpa jaminan salah satunya KUP ini.

”Meski belum berlari, tapi ibaratnya sekarang sudah joging,” tambahnya.

Musthofa memaparkan, bahwa lahirnya KUP ini berangkat dari keprihatinannya terhadap para pelaku usaja mikro kecil. Keseriusan mereka dalam mengembangkan usaha yang ingin bekerja dengan baik terkendala permodalan.

Namun KUP ini hanya untuk pelaku usaha yang kegiatannya jelas. Ini akan memberikan dampak yang luar biasa. Hingga awal Agustus ini, dengan pinjaman sebesar di bawah Rp 10 miliar, sudah bisa merekrut ribuan orang. Fakta lain yang patut dibanggakan adalah kejujuran masyarakat. Sampai saat ini tunggakan KUP nol persen.

Menyinggung mengenai adanya kredit serupa, Bupati memberikan apresiasi mengenai Mitra Jateng 25. Kredit ini hampir sama dengan KUP. Yaitu memberikan pinjaman tanpa jaminan. Ini merupakan gagasan Gubernur Jawa Tengah.

”Gagasan Pak Gubernur ini juga luar biasa bagus. Yang penting dengan kebersamaan dan niat baik semua, bisa berjalan baik,” imbuhnya.

Di akhir dialog, Bupati Kudus menyebutkan bahwa negara akan kuat di segala bidang manakala ada kekuatan pada berbagai hal yang dimulai dari masyarakat desa. Ketika desa kuat, maka kecamatan kuat, hingga berdampak kabupaten/kota kuat. Tentunya ini membuat provinsi yang hebat bagi penopang bangsa dengan kuat.

Sementara itu, Rohmad, salah seorang pengusaha asal Kudus menurutkan, kini usahanya semakin besar. Yaitu beternak telur bebek. Keterampilan ini diperolehnya berkat pelatihan keterampilan di balai latihan kerja (BLK). Dengan bantuan modal yang diterimanya, kini pasar telurnya semakin meluas hingga luar daerah.

”Dulu saya mengikuti pelatihan tahun 2010. Dan mendapat bantuan sebanyak 125 ekor. Kini pemasaran hingga luar Kudus,” akunya.

Dirinya menyampaikan bahwa modal keterampilan dan bantuan yang diperolehnya sangat bermanfaat. Ini merupakan contoh nyata keberhasilan karena upaya yang dilakukan masyarakat dengan dukungan pemerintah. Kudus semakin sejahtera bukan hanya isapan jempol, namun sebuah kenyataan dengan niat yang baik dan semangat kuat.(*)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*