C 15 b Edy S

Sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Kudus, gemamuria.com – Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) di Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Kudus dialokasikan untuk sejumlah kegiatan. Setiap kegiatan selalu didasarkan pada regulasi yang berlaku. Yakni, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Dari sekian banyak kegiatan yang diselenggarakan Kantor Ketahan Pangan Kabupaten Kudus, salah satunya peningkatan budidaya dan pengolahan pangan lokal dengan cara pembuatan demplot di pekarangan rumah.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kudus Edy Supriyanto menyatakan, kegiatan ini merupakan implementasi dari Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus. Pada lampiran II A.3 Program Pembinaan Lingkungan Sosial, kegiatan b.1) d) disebutkan, peningkatan ketrampilan budidaya dan pengolahan pangan lokal, bantuan alat pengolahan pangan serta pengembangan budidaya tanaman pangan lokal bagi masyarakat di lingkungan IHT (Industri Hasil Tembakau).

Selain itu, juga didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Pada Pasal 7 Ayat (1) huruf a disebutkan, pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di lingkungan Industri Hasil Tembakau (IHT).

Pada umumnya, masyarakat sudah memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di rumahnya. Namun, terkadang pemanfaatannya belum bisa optimal. Karena itulah, dibutuhkan pembinaan dan pelatihan yang tepat kepada masyarakat.

“ Pembuatan demplot pekarangan merupakan salah satu upaya pemanfaatan pangan lokal. Setiap demplot terdiri dari pengadaan bibit tanaman, benih ikan, pakan ikan, kolam terpal, pupuk, pakan ternak dan ventrikultur,” kata Edy.

Demplot pekarangan ini sudah dilengkapi dengan bibit tanaman. Sehingga, tinggal menjalankan dan merawatnya agar tumbuh dengan baik. Jika pekarangan di rumahnya terlalu sempit, kelompok warga bisa membangun pekarangan tersendiri di lingkungan sekitarnya. Kemudian, anggota-anggota kelompok bisa memetik sayuran di tempat ini untuk keperluan sehari-sehari. Selain itu, ada juga anggota kelompok yang menanam bibit-bibit sayuran di pekarangan rumahnya sendiri.

Dengan memanfaatkan pekarangan yang menghasilkan sayuran sehat, maka dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di samping itu, bisa juga hasil dari pekarangan tersebut dijual untuk menambah pendapatan. Sedangkan untuk pengadaan peralatan pelatihan pengolahan pangan lokal diwujudkan dengan pemberian alat oven cabinet, alat penepung, up sieller, loyang oven, perajang singkong manual, dan mixer kecil. ”Dengan kegiatanh ini, kami berupaya membina kemampuan dan ketrampilan kerja bagi masyarakat di lingkungan IHT,” ujar dia. (***)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*